YABIS YABIS

Kekeliruan Dalam Taubat

Akhi fillah, sebagai manusia yang tidak luput dari kesalahan dan kekhilafan, kita sangat memerlukan taubat, dari pagi hingga petang berapa banyak hak Allah Ta’alaa yang telah kita langgar, berapa banyak kewajiban yang kita tinggalkan, dan berapa banyak maksiat yang kita lakukan ?

Intinya adalah taubat merupakan tugas kita seumur hidup, urusan pertama dari seorang hamba hingga akhir hayatnya, kedudukan ubudiyah pertama seorang hamba, pertengahan dan akhirnya.

Taubat sebagaimana dikatakan ulama : meninggalkan perbuatan maksiat karena mengetahui keburukannya, menyesal telah melakukannya, serta berazam untuk tidak melakukannya lagi, dan mengejar segala ketertinggalannya, apabila dalam hal meninggalkan kewajiban, maka menyempurnakan kekurangan dengan amalan sunah, apabila berhubungan dengan hak manusia, maka mengembalikan hak kepada pemiliknya. Dengan penuh keikhlasan kepada Allah, mengharapkan pahalaNya, takut akan azabNya, hendaklah taubat dilakukan sebelum nyawa sampai ditenggorokan, dan sebelum terbitnya matahari dari sebelah barat.

Akhi fillah, Sesungguhnya Allah Ta’alaa telah membuka selebar-lebarnya pintu taubat, sebesar apapun dosa kita seandainya kita bertaubat dengan taubat nasuha niscaya Allah akan mengampuninya sebagaimana Allah berfirman :
{ قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ } (الزمر: 53) .

53. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa[1314] semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat diatas Allah memperingatkan kita supaya tidak berputus asa dari rahmat Allah lalu meninggalkan taubat. Demikian juga dalam sabda Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam :
عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَأَزِيدُ وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَجَزَاؤُهُ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا أَوْ أَغْفِرُ وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ ذِرَاعًا وَمَنْ تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَمَنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً وَمَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

Artinya : dari Abu Dzar radhiallahu anhu berkata : telah bersabda Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam dalam hadits qudsi Allah Ta’alaa berfirman : barangsiapa yang mengerjakan kebaikan baginya sepuluh kali lipat dan Aku tambah pahalanya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan maka balasannya satu kejahatan atau Aku Ampuni, barangsiapa mendekat kepadaKu satu jengkal maka Aku akan Mendekat kepadanya satu hasta, barangsiapa mendekat kepadaKu satu hasta maka aku akan Mendekat kepadanya satu depa, barangsiapa yang dating kepadaKu dengan berjalan maka Aku Mendatanginya dengan berlari kecil, barangsiapa bertemu denganKu membawa sepenuh bumi kesalahan tidak mensekutukanKu dengan suatu apapun Aku menemuinya dengan sepenuh bumi ampunan “ HR Muslim.

Jadi janganlah kita berputus asa untuk kembali kepada Allah terutama dibulan Ramadhan yang penuh berkah ini sebelum datangnya hari yang tidak bermanfaat harta dan anak.
Allah Ta’alaa berfirman :
{ وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ } (الزمر: 54).

54. Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).

Dan banyak lagi ayat-ayat yang menjelaskan keutamaan taubat, semuanya menunjukkan bahwa Rahmat Allah sangatlah luas, mendahaului kemurkaanNya sebagaimana diriwayatkan dalam hadits yang shahih.
Namun diantara manusia ada yang memahami rahmat Allah dalam mengampuni hambaNya dengan pemahaman tyang keliru diantaranya :

Pertama : sebagian manusia menunda-nunda taubat karena merasa belum akan kembali kepada Allah, merasa akan bertaubat ketika akan meninggal.
Akhi fillah, siapakah yang menjamin kalau kita masih hidup esok hari, tidak ada yang tahu kapan ajal kita tiba kecuali Allah Ta’alaa.

{ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنزلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الأرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } [لقمان: 34]

34. Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok[1187]. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.

[1187] Maksudnya: manusia itu tidak dapat mengetahui dengan pasti apa yang akan diusahakannya besok atau yang akan diperolehnya, Namun demikian mereka diwajibkan berusaha.

Kedua : lalai bertaubat atas dosa-dosa yang tidak diketahuinya padahal ada dosa-dosa yang berbahaya yang kadang tidak kita ketahui sehingga Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قال النبي صلى الله عليه وسلم: « الشرك في هذه الأمة أخفى من دبيب النمل فقال أبو بكر : فكيف الخلاص منه يا رسول الله؟ قال: أن تقول: اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم، وأستغفرك لما لا أعلم » رواه البخاري في الأدب المفرد.
Artinya : Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ syirik pada umat ini lebih tersembunyi dari pada semut yang berjalan, maka Abu Bakar berkata : lalu bagaimana kita berlepas diri darinya yaa Rasulullah ? beliau berkata : hendaklan engkau mengucapkan : Yaa Allah sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari mensekutukanMu sedangkan aku tahu, dan aku mohon ampun kepadaMu  dari dosa syirik yang aku tidak tahu”.
HR Imam Bukhari dalam Adabul Mufrad.

Ketiga : meninggalkan taubat karena kuatir kembali berbuat dosa, atau takut celaan manusia, atau jatuh kedudukannya. Ini adalah pandangan yang keliru, hendaklah setiap orang berazam untuk bertaubat, apabila kembali berbuat dosa maka hendaklan memperbaharui taubatnya dan seterusnya. Karena barangsiapa bertaubat maka Allah akan menggantikan yang lebih baik dari yang dia tinggalkan.
عن ابن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال :ما ترك عبد لله أمرا لا يتركه إلا لله إلا عوضه الله منه ما هو خير له منه فى دينه ودنياه
أخرجه أبو نعيم فى الحلية (2/196) وقال : غريب . وابن عساكر (10/374) .

Artinya : dari Ibnu Umar radhiallahu anhu dari Nabi shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda : “ tidaklah seorang hamba meninggalkan sesuatu karena melainkan Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik darinya dalam agama dan dunianya “ hadits dikeluarkan Abu Nuaim dalam Hilyah dan Ibnu Asakir.

Keempat : terus-menerus melakukan maksiat karena bersandar kepada keyakinan akan luasnya rahmat Allah. Ini keliru karena selain rahmat Allah luas maka azab Allah juga pedih.
وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ  (الأنعام: من الآية 147).

147. Maka jika mereka mendustakan kamu, Katakanlah: “Tuhanmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”.

Kelima : taubatnya pendusta, yaitu orang-orang berhenti berbuat dosa dalam waktu tertntu karena sakit, atau ketakutan atau sebab yang lain. Mereka ini jika mendapat kesempatan untuk kembali berbuat maksiat mereka kembali. Sebagaimana Allah menceritakan hal mereka dalam firmanNya :

وَإِذَا غَشِيَهُمْ مَوْجٌ كَالظُّلَلِ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ فَلَمَّا نَجَّاهُمْ إِلَى الْبَرِّ فَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلا كُلُّ خَتَّارٍ كَفُورٍ

32. Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus[1186]. dan tidak ada yang mengingkari ayat- ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.[ Luqman : 32].

Marilah kita bertaubat kepada Allah dengan taubat yang nasuha, mudah-mudahan Allah Menerima taubat kita.

Keenam : merasa tertipu ketika Allah membiarkan (tidak mengazab) orang yang bermaksiat. Ini keliru karena kadang Allah mengazab seseorang tidak dengan kesengsaraan tapi dengan kesenangan sebagaimana Rasulullah shallawahu ‘alaihi wasallam bersabda :

قال صلى الله عليه وسلم: « إذا رأيت الله – عز وجل – يعطي العبد من الدنيا على معاصيه ما يحب؛ فإنما هو استدراج » ثم تلا قوله – عز وجل: { فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ }{ فَقُطِعَ دَابِرُ الْقَوْمِ الَّذِينَ ظَلَمُوا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ } (الأنعام: 44 – 45) . أخرجه أحمد ورجاله ثقات.

Artinya : Rasulullah shallawahu alaihi wasallam bersabda : “ apabila engkau melihat Allah Azza wajalla memberikan kepada hambanya kesenangan dunia yang dicintai dalam padahal dia selalu bermaksiat, maka ketahuilah bahwa itu adalah istidroj (penguluran waktu)” lalu beliau membaca ayat Allah : 44. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
45. Maka orang-orang yang zalim itu dimusnahkan sampai ke akar-akarnya. segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan perawi yang tsiqot.

Ketujuh : termasuk kesalahan dalam taubat, putus asa dari ramhat Allah, Sebagaimana Allah melarang kita merasa aman dari azab Allah, aman dari perbuatan maksiat, Allah juga melarang kita putus asa dari rahmatNya karena dua hal ini termasuk dosa besar.  Sebagian orang ketika telah terjerumus dalam perbuatan dosa, lalu bertaubat, lalu kembali lagi bermaksiat, dia putus asa dari ramhat Allah, padahal tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang yang kafir. Allah Ta’alaa berfirman :

( وَلا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لا يَيْئَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ ) [سورة يوسف: 87].

87. Hai anak-anakku, Pergilah kamu, Maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”.[Yusuf : 87].

Demikianlah beberapa kesalahan dalam masalah taubat yang terjadi dikalangan kaum muslimin, mudah-mudahan kita dijauhkan oleh Allah darinya.
Wallahu a’lam bishowab.

One comment

  1. azhar
    #1

    menambah ilmu dalam mengamalkan ajaran Islam, smoga jadi Yunta fa’u ilaih….amin

Leave a Reply





XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>